Membentuk Komunitas Pembelajar Lewat Challenge Session

Rekan-rekan sekalian, banyak pertanyaan yang diajukan kepada saya tentang bagaimana caranya agar guru-guru di sekolah senang belajar.  Mereka mengeluhkan betapa sulitnya para guru diajak untuk terus menambah wawasan, memiliki kebiasaan membaca dan terus mengembangkan serta mengasah kemampuan mengajarnya.

Berdasarkan pengalaman penulis, hal di atas memang kerap terjadi di tempat tertentu.  Biasanya para guru malas belajar karena memang tidak ada tuntutan atau tagihan, mereka berpikir buat apa belajar kalau kondisi yang mereka alami saat ini sudah mapan.  Padahal, guru adalah salah satu sumber informasi bagi para siswanya.  Celakanya, sebagian guru sulit mengikuti kebutuhan jaman, perkembangan informasi dan tuntutan kondisi.

Kalau sudah terjadi hal seperti di atas, apa yang kita, sebagai manajemen, harus  lakukan?  mengeluh? mendumel? berharap para guru cepat pensiun? wow, jangan-jangan sebelum mereka pensiun, kitanya yang akan frustasi lebih parah lagi.  Terus…apa solusinya?  mungkin kegiatan berikut ini bisa membantu membentuk komunitas guru sebagai komunitas pembelajar.

Untuk mengatasi hal di atas, mungkin kegiatan dengan istilah Challenge Session bisa membantu para guru menjadi pribadi pembelajar.

Di awal semester, para guru bisa dipastikan membuat rencana pengajaran.  Terlepas dari mereka yang senang meng copy paste program dari sana-sini, kepala sekolah bisa mengumpulkan mereka untuk mendiskusikan programnya.

Awalnya, kepala sekolah bisa membuat jadwal siapa yang akan mempresentasikan programnya dan meminta rekannya untuk mempertanyakan apa saja yang dirasa kurang pas dari program tersebut.  Sang desainer, yaitu guru yang sedang presentasi, tentunya harus memberi penjelasan mengapa ia menyusun programnya sedemikian rupa sehingga alasannya bisa diterima oleh para rekannya.  Dalam sesi ini, kepala sekolah berperan besar dalam menghidupkan sesi pada saat  memberikan masukan-masukan atau komentar yang berkualitas.  Dengan kata lain, kepala sekolahnya pun haruslah memiliki latar belakang tentang pembelajaran.

Teman -teman sekalian, apabila kegiatan di atas dilakukan secara berkala, siapa akhirnya yang harus belajar?  Guru-guru?  ya, tentunya.  Siapa lagi?  sudah pasti kepala sekolahnya pun harus belajar untuk bisa memberikan komentar yang berbobot.

Rutinnya kegiatan di atas akan membuat setiap orang tidak asal dalam menyusun program, apalagi meng copy paste nya dari sekolah lain.  Sudah bukan jamannya lagi sekolah membiarkan para gurunya meng copy paste program. ….. malu oleh siswa yang selalu diingatkan oleh kita supaya tidak menyontek, sementara gurunya hobi copy paste.……!!!!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: