School Development Planning (SDP) atau Rencana Pengembangan Sekolah

Dalam rangka menjadikan sekolah sebagai suatu komunitas belajar yang berkualitas, sekolah tidak bisa terlepas dari yang namanya perubahan.  Dan tentunya perubahan tersebut sangatlah dinamis.  Sayangnya, tidak semua sekolah mampu dan mau mengatasinya. Sebagian memilih berangan-angan ingin berubah, sebagian merasa pesimis bisa berubah.  Padahal perubahan akan selalu datang menghampiri mereka, yang kadang bisa membawa kebaikan. Namun jangan salah, perubahan yang tidak dikelola akan membuat sekolah terombang ambing.  Hal ini terjadi karena biasanya sekolah tidak memiliki filter yang disebut sebagai tujuan.  Kalau filternya bolong, sekolah akan dengan semangat mengikuti kemana arah perubahan terjadi, yang kemudian akan merasa lelah dan munculah yang namanya frustasi.  Frustasi terjadi karena merasa tidak pernah mencapai harapan.  Bagaimana akan mencapai harapan apabila harapannya pun berubah-ubah? Kalau sudah frustasi, akhirnya didatangkanlah yang namanya kambing hitam, agar kesalahan tidak nampak dipundak pelakunya.  Hal ini akan terus terjadi, berputar mengelilingi lingkaran.

Untuk dapat mengatasi perubahan tersebut, sekolah membutuhkan suatu perencanaan yang efektif.  Langkah ini adalah School Development Planning (SDP) atau Rencana Pengembangan Sekolah.  Menurut David Tuohy  (1997), SDP adalah serangkaian langkah yang membantu sekolah mencapai tujuannya.

SDP dapat membantu sekolah menentukan prioritas atas apa yang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu, siapa yang akan mengerjakannya, dan memberi kesempatan kepada sekolah untuk berkolaborasi dengan semua pihak yang berkepentingan.

Fokus dari SDP adalah prestasi belajar siswa.  Oleh sebab itu, segala perencanaan dan kegiatannya harus mengacu kepada tujuan pendidikan sekolah, yaitu prestasi belajar siswa.  Banyak sekolah yang pada saat penyusunan rencana pengembangan sekolahnya hanya didesain oleh sekelompok pengambil kebijakan yang kurang paham dengan prestasi belajar siswa  sehingga dokumen yang dihasilkan kurang mendukung tujuan pendidikan yang utama.  Hal ini disebabkan selain kurang pahamnya si pendesain, juga terkadang mereka membuat rencana tanpa melibatkan pihak-pihak yang berkecimpung di lapangan.

SDP bukanlah sekedar dokumen bisnis yang dihasilkan para ahli namun tidak bermakna, SDP merupakan dokumen milik bersama, disusun bersama dan dilaksanakan bersama pula.  SDP bisa bermakna apabila dipahami oleh semua pihak sehingga apa yang dirancang dapat terwujud.

Idealnya, penyusunan SDP dilakukan setelah sekolah melakukan asesmen diri sehingga mengetahui kebutuhan yang harus dipenuhi.  Namun sayangnya tidak semua sekolah memiliki keterampilan tersebut sehingga pada saat membuat SDP tidak sejalan dengan apa yang diharapkan.  Keluhan, saling menyalahkan serta kefrustasian yayasan maupun sekolah biasanya berawal dari hal tersebut di atas.

Penyusunan SDP tidaklah mudah, namun bukan berarti tidak mungkin untuk dirancang, apalagi dilaksanakan.  Komitmen dari semua pihak yang berkepentingan untuk menjalankan kegiatan sesuai dengan SDP menjadi penting.  Asesmen terhadap SDP yang dilakukan bersama akan menambah semangat sekolah untuk menjadi lebih baik di masa mendatang dan menjadi GREAT SCHOOL, bukan hanya tetap bertahan di GOOD SCHOOL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: