Komunikasi dan Pengaruhnya

Komunikasi merupakan hal penting dalam menjalin hubungan.  Di tempat kerja, kita perlu berkomunikasi.  Di sekolah putra puteri kita, kita  perlu menjalin komunikasi dengan para guru.  Di rumah, tentunya kita pun tidak bisa melepaskan diri dari yang namanya komunikasi.  Komunikasi bisa berupa verbal maupun non verbal.  Komunikasi verbal tentunya berupa kata-kata yang keluar dari mulut kita, sedangkan komunikasi non verbal adalah bentuk komunikasi yang bisa berupa ekspresi dari emosi kita, bahasa tubuh, atau tindakan.  Komunikasi non verbal memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan komunikasi verbal.

Isac Newton, seorang ilmuwan terkenal, memperkenalkan suatu teori sebab akibat yang bisa diterapkan dalam berkomunikasi.  Ia menyatakan bahwa setiap gerakan akan berbalik setara, artinya, apabila kita melempar bola tenis berkecapatan 2x lipat, maka bola tersebut akan berbalik dengan kecepatan yang sama.  Dalam berkomunikasi, apabila kita mengeluarkan kata-kata yang  buruk, maka orang akan berbalik mengatakan hal yang buruk atau berdampak buruk bagi kita.  Begitu sebaliknya.

Bagaimana dengan anak-anak kita?  Ternyata menurut penelitian, reaksi anak terhadap orang tua dalam berkomunikasi merupakan dampak dari bagaimana orang tuanya berkomunikasi dengan anaknya.  Anak dapat merasakan emosi yang sedang dirasakan oleh orang tuanya pada saat berkomunikasi dengan mereka.  Oleh sebab itu, orang tua perlu berhati-hati pada saat berkomunikasi dengan anak-anak.  Emosi perlu ditata agar anak dapat menangkap pesan positif dari orang tuanya.

Suatu saat, anak bisa dengan mudah menuruti apa yang kita sampaikan, namun terkadang mereka menolak.  Apa yang terjadi?  Tanpa sadar, orang tua telah menerapkan komunikasi efektif di langkah pertama, dan komunikasi ke dua dilakukan dengan cara yang kurang efektif.  Bagaimana caranya agar komunikasi kita efektif?  Berikut adalah beberapa tip yang bisa dipakai oleh orang tua dalam berkomunikasi dengan putera puterinya.

  • Menjadi Pendengar Yang Baik

Mendengar adalah dasar dari keterampilan berkomunikasi.  Anak-anak senang bercerita dan memerlukan seseorang untuk mendengarkan ceritanya tersebut.  Seorang Ibu bercerita betapa kagetnya ia pada saat mengetahui bahwa anaknya yang berumur 7 tahun tanpa sepengetahuannya sering berkunjung ke rumah neneknya (kebetulan rumahnya dekat dengan rumah si nenek).  Setelah bertanya kepada sang anak mengapa ia sering berkunjung ke rumah nenek, ternyata sang anak menjawab bahwa ia ingin bercerita kepada neneknya.  Setelah ditanyakan kepada sang nenek, ternyata sang anak hamper setiap hari ‘memaksa’ neneknya untuk duduk mendengarkan ceritanya.  Hal ini dilakukan oleh sang anak karena orang tuanya bekerja.  Di rumah hanya ada pembantunya saja.

Dari ilustrasi di atas bisa kita pahami betapa anak sebenarnya memiliki kebutuhan dasar, yaitu perlu didengar.  Dari kasus tersebut  jelas bahwa si nenek memenuhi kebutuhan si anak.   Anak akan enggan berkomunikasi dengan orang tuanya apabila yang sering dilakukan oleh mereka adalah menceramahinya.  Yang keluar dari orang tua adalah tidak boleh ini atau tidak boleh itu.  Anak akan diam, seolah-olah menuruti apa kemauan dari orang tuanya, namun di belakang mereka akan melakukan apa yang menjadi keinginannya tanpa mengindahkan kemauan orang tuanya.  Anak pun akan sering melawan dan cuek terhadap orang tuanya.  Kalau hal ini terjadi, apa yang harus dilakukan?  Langkah berikut mungkin bisa membantu.

  • Memuji Anak

Sikap orang tua yang memuji anak atas apa saja yang telah mereka lakukan dapat membantu anak untuk berbuat lebih baik lagi.  Namun perlu diingat, pujilah anak atas usahanya, bukan karena intelektual atau bakatnya.  Penelitian telah membuktikan bahwa pujian atas usaha yang dilakukan anak akan berdampak positif terhadap kompetensi mereka.

  • Kritik Yang  Membangun

Mungkin kita bisa mengingat-ingat, seberapa sering anak-anak kita mendengarkan kritikan kita dan mengikuti saran kita?  Apakah mencari kesalahan dan mengkritiknya akan membuat mereka lebih baik dalam berperilaku atau sama saja dengan sebelumnya?  Anak tidak suka dikritik.  Oleh sebab itu kita perlu memberikan masukan yang membangun dengan membicarakan bersama apa yang sedang dihadapi dan bagaimana caranya untuk memperbaiki keadaan tersebut.  Cara yang dipilihnya bersama-sama kita akan lebih membuatnya nyaman dibandingkan dengan kalau kita yang menentukan cara penyelesaiannya.  Solusi yang dipilih akan membuat anak lebih bertanggung jawab dalam menjalankan keputusannya.

  • Menghindari Argumen dengan Anak

Berargumen hanya akan menjauhkan kita dari anak karena setiap argumentasi akan meruntuhkan ego, meruntuhkan kebanggaannya dan mengganggu self esteem nya. Argumentasi hanya akan menjauhkan orang tua dengan anak.

Diskusi, meminta pendapat dari anak dan menunggu anak menentukan pilihan terbaik lebih bermanfaat bagi hubungan ke dua belah pihak.  Orang tua bisa saja mengarahkan dengan membantu menemukan alternative-alternatif penyelesaian masalah yang mungkin sesuai dengan kebutuhan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: