Guru Benar!

Pada saat saya mengisi suatu seminar di jakarta, yaitu seminar tentang Character Building, seorang pembicara menyebut beberapa jenis guru yang membuat saya refleksi.  Kenapa saya harus refleksi, karena saya juga ingin tahu, sebetulnya saya termasuk kriteria yang mana, dan guru-guru saya yang ada di sekolah saya pun banyak masuk ke kategori yang mana.

Menurut beliau (saya lupa namanya), ada empat jenis guru:

Guru Dasar adalah mereka yang memang menjadi guru karena keturunan.  Ayah, Ibu, nenek, paman semuanya guru.  Intinya, keluarga dari guru ini adalah memang keluarga guru.

Guru nyasar adalah mereka yang tidak memiliki cita-cita sebagai guru, atau menjadi guru bukan panggilan hati.

Guru bayar adalah mereka yang selalu disibukkan dengan hitung hitungan uang.  Segala pekerjaannya dinilai dengan uang.  Membuat soal ingin dihargai dengan uang.  Datang di hari libur harus diberi uang. Membuat laporan harus dihargai dengan uang.  Pokoknya guru ini tidak berbeda dengan pedagang yang selalu menghitung sesuatu dengan uang.

Guru benar adalah mereka yang dari awal ingin menjadi guru, mendalami profesi dari hati.  mengajar adalah bagian dari hidup.  bekerja adalah bagian dari kebutuhan.  Mereka adalah orang-orang yang memiliki integritas tinggi, tidak pamrih, tidak merasa paling pintar, sopan, santun, pokoknya mereka adalah panutan bagi siapa pun.

Nach, kalau sudah tau begini, apa yang harus kita pilih?  Kita tentunya sulit mendapatkan guru yangterakhir.  Sudah jarang, perlu proses pula seseorang menjadi seperti itu.

Banyak sekolah yang memiliki guru dasar dan kurang berkualitas.  perlu disesali?  jangan lah.  Mereka sudah punya dasar yang kuat untuk bekerja dan bisa menjadi guru benar apabila dilakukan pendampingan.  Memang perlu waktu namun kita tidak akan menyesal telah memilih mereka.  Ingat, mengajar adalah pekerjaan hati.

Guru nyasar suatu waktu bisa menjadi guru benar dengan pembinaan yang intens dan kita perlu memberi mereka waktu.  Namun jangan heran apabila tingkat keberhasilannya rendah, paling hanya 30 persen saja, karena mereka akan beralih menjadi guru bayar.

Yang akan membuat kita pusing dan pegal serta menyesal adalah apabila kita memiliki guru bayar.  Bukan karena uangnya yang dipermasalahkan, namun kita akan selalu berurusan dengan nilai-nilai yang berbeda.  Akhirnya bentrokan akan sering terjadi tanpa henti karena memang kacamata yang digunakan oleh kedua belah pihak berbeda.

Nach, supaya tidak salah pilih, mari kita hati-hati dalam proses perekrutan guru.  Perpanjanglah proses perekrutan tersebut, jangan terburu-buru.

Bagi yang sudah terlanjur memiliki guru bayar, siap -siaplah dengan program pendampingan yang akan memakan waktu lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: