Understanding by Design dan KTSP

Sekarang ini pemerintah memberi keleluasaan kepada setiap sekolah untuk menyusun kurikulumnya yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi sekolahnya masing-masing.  Dalam rangka pengembangan kurikulumnya, banyak cara yang bisa dipilih dan kemudian diaplikasikan oleh tim guru.  Salah satu model  dalam penyusunan kurikulum sekolah adalah dengan mengaplikasikan model Backward Design yang diperkenalkan oleh Wiggins and McTighe dalam bukunya yang berjudul Understanding by Design. Penulis kebetulan mendapatkan materi UBD tersebut selama enam bulan pada saat melanjutkan kuliah S2 nya.

Apa sebetulnya keistimewaan dari model kurikulum tersebut?  sebelum membahas model tersebut, penulis ingin menggaris bawahi inti dari UBD yang diperkenalkan oleh ke dua pakar pendidian tersebut.  Sesuai dengan penggunaan Understanding di dalam konsepnya, tentunya satu kata tersebut bukan hanya sekedar kata yang dibutuhkan tanpa makna.  Di dalam bukunya terdapat pertanyaan pembuka yang sangat menggugah.  Begini katanya : what is understanding? Memahami itu apa sich? Begitu intinya.

Apakah kalau siswa bisa menjawab pertanyaan yang diajukan guru bisa langsung dikatakan kalau ia sudah paham terhadap apa yang dipelajarinya? Nach, untuk mengetahui siswa paham atau tidak tentunya harus diukur dengan banyak cara, misalnya apakah mereka bisa menyebutkan, bisa menjelaskan, bisa membandingkan, bisa menggambarkan dan sebagainya.  Indikator-indikator untuk mengetahui bahwa siswa paham atau tidak,  bisa menggunakan six facet of understanding. Silahkan Bapak Ibu membuka file nya apabila perlu.

Wiggins dan McTighe telah menyumbangkan dua hal yang sangat penting bagi dunia pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum, yaitu :

– backward design

– six facet of understanding

Nach, sehubungan dengan backward design di atas, para penyusun kurikulum dapat menerapkannya pada saat penyusunan silabus.  Begini, biasanya sekolah mencari indikator dan pengalaman belajar siswa terlebih dahulu dalam membuat silabusnya, kemudian jenis asesmen nya baru ditentukan.  Menurut Wiggins dan McTighe,  sebaiknya langkah tersebut dibalik.  Tentukan dulu asesmennya, baru kemudian pengalaman belajar siswanya.  Mengapa?  Hal tersebut dikarenakan agar kita menyusun kegiatan yang lebih terarah tujuannya.  Dengan menentukan asesmen terlebih dahulu, maka kita akan tahu ke mana arah tujuan pembelajaran kita.   Asesmen didesain dengan merujuk kepada tujuan, dalam hal ini adalah kompetensi yang ada di Standar Isi.  Agar lebih jelas, begini penyusunan kurikulum dengan memasukkan ide backward design:

1.  Competencies scanning. Baca standar isi untuk satu tahun, lakukan scanning dan kelompokkan kompetensi-kompetensi dasar yang serupa.  Langkah ini akan menghasilkan tema-tema atau ada beberapa kompetensi dasar yang berdiri sendiri.

2.  Goal Setting/Menentukan tujuan. Langkah ini dapat dilakukan dengan mengambil standar kompetensi atau kompetensi dasar yang akan dicapai dalam waktu tertentu.

3.  Tentukan topik materi/ enduring understanding/essential questions. Topik materi dapat dilihat dari kompetensi dasar yang dipilih.  Nach, guru perlu mencari pemahaman dasar dari materi yang akan diajarkan dengan menjelaskan esensi dari materi tersebut.  Pertanyaan -pertanyaan tentang materi tersebut dapat disusun untuk mendukung pemahaman yang akan dicapai.  Jadi, dalam langkah ini guru perlu memahami sekali tentang topik materi yang akan diajarkan.

4.  Tentukan asesmen atau bukti pembelajaran.  Guru perlu menentukan jenis asesmen yang akan digunakan selama satu kurun waktu tertentu.  Apakah akan diberian proyek, performance task atau lainnya.

4.  Tentukan Indikator. Indikator pembelajaran bukanlah tujuan, melainkan petunjuk apakah pengalaman belajar yang kita susun dalam kurun waktu tertentu dapat mencapai tujuan.  Guru dapat menggunakan kata operasioanl yang ada dalam Taxonomy Bloom atau mengambilnya dari six facet of understanding yang sudah dikatakan di atas.

5.  Tentukan Pengalaman belajar.  Ingat, pengalaman belajar ini haruslah menantang dan efektif.  Urutan pengalaman belajar bisa dimulai dari yang paling abstark, yang paling mudah dan urutan materinya diperhatikan.

Langkah di atas sudah menggabungkan antara kebutuhan KTSP dan konsep nya Wiggins dan McTighi. Penulis tidak mengambil dan menerapkan seratus persen UBD yang diperkenalkan ke dua tokoh tersebut namun meramunya agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan KTSP tetapi tidak mengurangi esensi dari konsep yang diperkenalkan.   Ingin mencobanya?

Apabila Bapak Ibu ingin tahu lebih lanjut mengenai UBD atau Understanding by Design, silahkan membuka situsnya yang suangat banyak dan gratisss…..dengan mengetik understanding by design, langsung akan ketemu banyak pilihan.  Selamat membaca dan berkreasi.



5 thoughts on “Understanding by Design dan KTSP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: