Kita dan Masalah

Dalam bekerja, terkadang kita dipusingkan oleh masalah.  Rasanya masalah yang kita hadapi tidak ada henti-hentinya.  Semakin kita berkonsentrasi untuk memecahkannya, semakin runyam dan pusing kepala kita dibuatnya.  Kita  sudah berusaha untuk memecahkannya sendiri, namun tidak ada hasil.  Lalu pergi ke teman kita untuk berbagi, eh malah tambah bingung.  Nah, kalau sudah begini, apa yang bisa kita lakukan?

Mudah-mudahan informasi ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

Sebelum memecahkan masalah, marilah kita pilah-pilah masalah tersebut menjadi tiga kategori;

1.  Apakah masalah tersebut menyangkut kehidupan sehari-hari kita, misalnya  hal-hal yang berhubungan dengan kebiasaan, tugas atau pun peran kita?  kalau iya, masalah tersebut termasuk kategori direct control, yaitu masalah yang bisa kita cari solusinya karena menyangkut diri kita sendiri.

2.  Apakah masalah tersebut berhubungan orang lain?  kalau iya, berarti masalah tersebut termasuk kategori indirect control , yaitu masalah yang harus dicarikan solusinya bersama orang lain atau minimal solusinya harus mempertimbangkan kepentingan orang lain.

3.  Apakah masalah tersebut sama sekali di luar jangkauan atau kemampuan kita, atau sama sekali tidak berhubungan dengan kita?  berarti masalah ini termasuk kategori no control. Apabila kita memikirkan masalah ini, banyak waktu yang akan terbuang karena pada dasarnya itu bukanlah masalah kita atau kita tidak punya kuasa atas masalah tersebut.  Misalnya, di kantor kita sedang ada pengangkatan direksi atau Kepala Sekolah Baru.  Nah, kalau kita memikirkan mengapa orang tersebut diangkat dan kemudian kita merencanakan demo karena tidak setuju dengan hal tersebut, kita akan banyak menghabiskan waktu.

Pengkategorian masalah di atas dimaksudkan agar kita lebih bijak dalam melihat suatu permasalahan.  Secara tidak langsung kita diingatkan agar kita ‘mengurusi’ masalah kita yang utama, yaitu masalah yang sebenarnya lebih mudah untuk kita pecahkan, yaitu masalah kita sendiri karena pemecahannya tidak perlu melibatkan pihak lain.

Namun terkadang kita terpancing untuk ikut ‘nimbrung’ memikirkan masalah yang sebenarnya bukan urusan kita sehingga kita tidak punya waktu untuk membenahi masalah kita sendiri yang sebenarnya sudah menumpuk.

Nah, kalau kita sudah belajar memilah masalah, mudah-mudahan hidup terasa lebih ringan.  InsyaAllah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: