Kenali Siswa Anda

Teman-teman sekalian, menurut Dr. K Dunn, tak ada yang lebih tidak adil dengan perlakuan yang sama terhadap orang-orang yang berbeda dan ia pun menyatakan bahwa orang-orang yang menyarankan bahwa anak-anak yang harus beradaptasi dengan gaya guru mereka berarti mengabaikan gaya biologis yang alami.

Berdasarkan pernyataan tersebut, tentunya kita menyadari bahwa pembelajaran yang berbeda menjadi sangat penting di kelas. Mari kita simak contoh berikut:

Winston Churchill mendapat nilai buruk dalam tugas-tugasnya di sekolah. Dia juga gagap kalau berbicara. Namun dia menjadi salah satu pemimpin dan orator terbesar pada abad ke dua puluh.

Albert Einstein suka melamun. Nilai matematikanya jeblok di SMA. Namun ia menjadi ilmuwan terbesar di jamannya.

Thomas Alva Edison dipukul di sekolahnya karena terlalu banyak bertanya.

Beethoven tidak bisa mengali dan membagi.

Nah, apabila teman-teman ingin mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana langkah kita di kelas, silahkan klik di sini

One thought on “Kenali Siswa Anda

  1. Bu Angie, ini saya comot dari sana-sini. Barangkali berguna.

    Bagaimana (sesungguhnya) Anak Belajar?

    Dibawah ini adalah beberapa hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai panduan dalam melaksanakan pembelajaran khususnya dalam memahami perkembangan anak pada masa awal sekolah. Memahami perilaku anak dalam pembelajaran merupakan salah satu prasyarat agar kita dapat mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada anak.

    Anak adalah pembelajar yang aktif!

    Anak bukanlah seorang penerima pengetahuan yang pasif. Sebaliknya, mereka membangun pengetahuannya sendiri melalui aktivitas fisik, sosial dan mental(Piaget&Inhelder, 1969, Bredekamp&Copple, 1997). Karena mereka belajar melalui kegiatan langsung dan segala sesuatu yang berada di dunianya, proses pembelajaran mereka perlu media pengantar dan perlu dikaitkan dengan konteks budaya sosialnya (Vigotsky, 1986).
    Sebagai seorang pembelajar, anak memerlukan kesempatan untuk mengamati sesuatu dan kejadian-kejadian dalam dunianya, membentuk sendiri hipothesis, mencoba dan menemukan apa saja yang terjadi serta merumuskan jawabannya sendiri (Dewey, 1944; Glassman, 2001).
    Bermain adalah model anak dalam menemukan sesuatu. Segala bentuk permainan seperti permainan tiruan, permainan Game, permainan sosio drama memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba sesuatu, melihat apa yang terjadi dan belajar (Rubin, Bukowski&Parker, 1998).
    Mengatur ruang belajar anak menggunakan model pusat (center) perhatian merupakan cara yang efisien untuk memenuhi model aktif anak dalam pembelajaran. Pusat-pusat merupakan daerah dimana anak dapat bermain dan bekerja dalam lingkungan bertema. Pusat dapat melibatkan anak untuk mengambil keputusan, mempelajari ketrampilan baru, melatih ketrampilan yang didapat sebelumnya dan berinteraksi satu sama lain.

    Perkembangan anak berkaitan dengan Pembelajaran!

    Belajar tentang diri sendiri, perkembangan ketrampilan sosial dan pencapaian motivasi tidak dapat dipisahkan dari perkembangan intelektual, proses dan produk belajar, atau dari kesehatan fisik dan perkembangan. Pandangan anak tentang dirinya sendiri berdampak tidak saja terhadap interaksi mereka dengan orang lain, tetapi juga cara pandang mereka sendiri sebagai seorang pembelajar (ladd, 1990). Pada gilirannya,kemampuan intelektual anak dan pengontrolan mereka terhadap bahasa akan berkorelasi tinggi dengan bagaimana mereka berhubungan dan berinteraksi dengan teman sebayanya. Anak yang dapat menggunakan bahasa dengan efisien untuk melakukan negoisasi dalam situasi sosial, atau mereka yang memiliki kemampuan intelektual untuk memahami pandangan orang lain, akan lebih memiliki ketrampilan sosial yang tinggi.
    Serupa dengan itu, belajar tentang membaca dan menulis sebagian besar bergantung pada perasaan terhadap dirinya sendiri dan kemampuannya untuk mencapai sesuatu (Bandura, 1997). Anak yang percaya bahwa mereka bisa belajar dan berharap untuk dapat mencapainya, juga akan mengalami hal yang sama (Seefeldt, Denton, Galper, &Younosai, 1999).

    Pertumbuhan anak dan pembelajaran terjadi secara berurutan!

    Proses pertumbuhan dan belajar relatif terjadi secara berurutan (Berk, 2001). Misalnya, belajar umumnya terjadi dari konkrit menuju abstrak. Pada tahun-tahun awal, anak dapat mendalami dan mengembangkan gagasan melalui pengalaman konkrit dan pengalaman langsung. Pengalaman langsung ini dapat menghasilkan pengetahuan simbolik dan dan mengekspresikan gagasannya melalui gambar, melukis, ucapan dan gambaran melalui tulisan (Bredekamp&Copple, 1997; Piaget&Inhelder, 1969).

    Masing-masing anak adalah pembelajar individu!

    Setiap anak adalah seorang individu. Masing-masing akan tumbuh, berkembang, dan belajar dengan cara-caranya sendiri. Karena perkembangan anak merupakan hasil interaksi antara kedewasaan biologi, lingkungan, laju perkembangan dan variasi belajar. Jadi usia kronologis bukanlah indikator yang baik dari perkembangan kedewasaan atau apa yang dapat dipelajari anak.
    Meskipun perkembangan dan proses belajar terjadi dengan cara berurutan, perkembangan seringkali kasar. Beberapa anak akan mengalami perkembangan yang cepat dalam bahasa, namun perkembangan motoriknya belakangan. Yang lain akan mendemonstrasikan suatu kemampuan pada suatu saat dimana tidak dapat diulangi pada bulan yang lain.

    Perkembangan anak dan pembelajaran terikat dengan budaya!

    Budaya, konteks sosial, dimana anak belajar, tumbuh dan berkembang didefinisikan sebagai keseluruhan kompleks bahasa, pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum, kebiasaan, dan cara-cara kehidupan yang ditempuh oleh generasi selanjutnya. (Cole, 1999). Kelompok sosial, keluarga, agama, atau kelompok etnik dalam masyarakat, secara eksplisit maupun implisit dilalui dalam kebiasaan, nilai dan prinsip moral anak muda.
    Semenjak lahir, budaya melakukan sosialisasi anak untuk menjadi anggota masyarakat. Tetapi anak bukanlah hanya produk budaya dimana mereka dibesarkan. Dalam pertumbuhannya, anak memilih secara selektif atas pengaruh budaya yang diterima dan menajamkan konteks kulturnya sendiri sepanjang waktu (NRC&IM, 2001).

    Perlunya melibatkan keluarga!

    Hubungan erat antara anak dengan keluarganya bergantung pada sejauhmana pelibatan keluarga. Pandangan terhadap kondisi unik masing-masing anak, penghargaan pada keluarganya dan pelibatan dalam kerjasama antara keluarga dan sekolah juga berpengaruh terhadap keberhasilan akademik anak dan prestasi pada sekolah berikutnya (NRC, 2001a).
    Anggota keluarga dan guru harus bekerjasama untuk membangun keberlanjutan belajar. Pengalaman sekolah akan membangun dan memperluas apa yang dipelajari di rumah. Pada gilirannya, belajar anak di sekolah akan diperluas dan dilanjutkan di rumah.

    Belajar anak dapat diklarifikasi, diperkaya dan diperluas!

    Pengalaman pendidikan awal yang sesuai dapat memperluas, meningkatkan dan menjelaskan perolehan gagasan, konsep, bahasa, dan ketrampilan sosial anak secara spontan. Dengan panduan orang dewasa yang berpengetahuan luas, terlatih, dan punya sikap yang memahami anak dan pengetahuan, ketrampilan dan sikap anak yang perlu dicapai, anak dapat belajar lebih dari apa yang dimilikinya (Vigotsky, 1986).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: