Kompetensi Guru (lagi!)

Lagi-lagi tentang guru!  Ya, memang demikian kondisinya teman-teman.  Saya tidak putus-putusnya menulis tentang guru karena saya adalah guru, bekerja dengan guru, berada di lingkungan guru sehingga banyak informasi tentang guru.  Sebelumnya saya pernah menulis tentang tipe guru dilihat dari cara mereka berfikir.  Kali ini saya terinspirasi untuk menulis tipe mereka dilihat dari perilaku yang mereka perlihatkan.

Begini, apabila ada guru yang tidak kompeten namun tidak mau tahu, maka komitmennya cenderung diragukan, begitu pula dengan motivasi dalam bekerja, kemungkinan akan rendah.

Apabila ada guru yang tidak kompeten dan tidak merasa yakin akan dirinya, maka ia akan terlihat kurang percaya diri dan tentunya kita akan meragukan kemampuannya.

Bagaimana kalau ada guru yang kompeten dan mau tahu dengan kekurangannya?  tentunya ia akan memperlihatkan kualitasnya yang baik dalam mengajar , memiliki komitmen, motivasi dan selalu ingin berkembang.

Terus, bagaimana dengan guru yang kompeten dan yakin akan dirinya?  Ya sudah barang tentu ia akan memperlihatkan kompetensinya dalam mengajar, memiliki keyakinan akan apa yang dikerjakannya, penuh motivasi dan inovasi.

Ini yang terakhir.  Menurut Bob Talbert, Good teachers are costly, but bad teachers cost more.

Nah, bagi manajemen yang sedang mencari guru baru, tentunya ini merupakan tantangan bagi sekolah untuk mendapatkan guru yang ideal.

Untuk guru, ini merupakan refleksi untuk mengetahui apa yang harus dilakukan agar lebih baik.

Untuk orang tua, ternyata sulit mendapatkan guru yang ideal.

Untuk saya, ya PR lah untuk menjadi yang terbaik.

10 thoughts on “Kompetensi Guru (lagi!)

  1. Bu Angie,
    Guru kita umumnya pragmatis mungkin, apa yang menguntungkan dirinya dikejar-kejar terus. Setelah tercapai misalnya sertifikasi stagnan untuk berkarya. Jangankan memotivasi dan melakukan inovasi orang lain untuk dirinya sendiri aja suliit, apalagi pengawasan kita sangat lemah, kalau tidak diawasi ya rutinitas aja asal tertunaikan kewajiban udah, gemana ya?

    • Ya memang harus ada yang membimbing Pak, bukan mengawasi. Yang jadi masalah adalah, siapa yang mau dan bisa serta sadar untuk membimbing mereka?

  2. Menarik untuk membicarakan guru ideal dan tidak ideal. Tapi akan lebih menarik lagi adalah membicarakan apakah guru ideal itu hadir dengan sendirinya atau dibentuk oleh suatu lingkungan tertentu?
    Menurut saya, setiap pengajar sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi guru ideal. Asalkan ia berada ditempat yang ‘benar’. Maksudnya adalah guru tersebut berada disebuah institusi yang memiliki sistem dan culture yang dapat mendorong dan memotivasinya untuk memiliki kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru.
    Keidealan seorang guru tidak muncul karena lamanya mengajar. Banyak guru mengajar puluhan tahun tapi karena ia berada ditempat yang tidak benar tetap saja ia tidak memiliki kompetensi layaknya seorang guru. Namun, tidak sedikit guru yang latar belakangnya bukan dari pendidikan tapi ia berada di institusi yang memiliki sistem dan culture yang baik, akhirnya ia memiliki kompetensi seorang guru.
    Jadi sistem dan culture sekolah yang baik dapat menciptakan guru ideal. Mohon maaf bu’Anggie ini pendapat pribadi.

    • Menjadi guru ideal memang tidak terlahir begitu saja. Lingkungan yang akan membekali seseorang memiliki nilai. Nah, nilai-nilai inilah yang akan mempengaruhi cara berfikir dan berperilaku. Suatu budaya tidak dapat tercipta begitu saja, membutuhkan waktu yang lama dan konsistensi orang-orang di dalamnya. Apabila seseorang berada di tempat yang sudah punya budaya dan dimasuki oleh orang-orang yang belum memiliki budaya yang sama, maka orang tersebut akan keluar dari tempat tersebut. Jadi menurut saya adalah apabila sekolah mencari guru ya memang harus mendapatkan orang-orang yang memiliki visi yang sama supaya penyesuaian budayanya tidak lama. Jadi intinya, sekolah yang sudah memiliki budaya yang baik belum tentu akan menghasilkan guru ideal, tergantung individu-individunya. Mungkin akan ada orang yang ‘terpental’ karena tidak cocok dengan budaya sekolah tersebut. Apakah saya bisa menampilkan tulisan Bapak yang dikirim ke saya untuk di share kepada rekan-rekan kita?

    • Ini baru good teacher pak, bukan great teacher. Great teacher adalah mereka yang selalu memberi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya. Yang ini baru ‘demonstrate’ saja.

  3. Assalamu’alaikum wr. wb.

    Artikel yang bagus Bu,
    Semoga artikel ini dapat memacu pembaca (khususnya para guru) untuk terus memperbaiki diri sehingga dapat menjadi guru ideal atau setidaknya menuju ke guru ideal yang saat ini masih langka.

    Sering saya berpikir tentang guru ideal. Apakah guru ideal itu merupakan bakat ataukah dapat ‘dibentuk’?
    Saya berpikir bahwa semua guru pada dasarnya memiliki potensi untuk menjadi guru ideal. Siapa pun dia, apapun latar belakangnya, bahkan semua orang memiliki potensi untuk menjadi guru ideal. Hanya saja, diinstituasi manakah ia berada atau mengajar. Kalau ia berada di suatu institusi yang salah (sistem dan culturenya belum tertata dengan baik) maka seberapa lama ia mengajar, tetap saja ia tidak akan memiliki kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru. Hal ini sudah terbukti, banyak guru yang jam mengajarnya sudah puluhan tahun bahkan sudah melewati masanya tetap saja ia belum memiliki kompetensi yang seharunya ia miliki. Mengajar hanya dijadikan sebuah ritual tanpa makna. Sebuah pekerjaan yang terus berulang setiap tahun dan membosankan, itu kata seorang teman. Bahkan bisa saja, guru yang tadinya memiliki kompetensi yang baik namun kemudian ia menempati isntitusi yang salah, ke komptensiannya akan luntur bahkan ia akan terbawa arus yang lebih mendominasi.
    Tetapi sebaliknya, bila seorang guru itu berada ditempat yang benar dalam arti berada disebuah institusi yang memiliki sistem dan culture yang bagus, yang mendorong dan memotivasi setiap guru untuk memaksimalkan potensinya maka insyaallah guru tersebut apapun latarbelakang pendidikannya ia akan menjadi seorang guru yang kompeten. Jadi, untuk menjadi seorang guru ideal seorang guru harus mencari institusi yang memiliki sistem dan culture yang bagus (?)
    Beruntunglah guru yang berada disebuah institusi yang memiliki sistem dan culture yang baik.
    Menurut saya, managemen sebenarnya tidak usah bingung mencari guru ideal kalau seandainya institusi tersebut memiliki sistem dan culture yang sudah terbangun dengan baik.

    Maaf Bu ini hanya pendapat pribadi, kalau salah mohon dikoreksi
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    Abdul-Candraloka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: