Kompetensi Guru

Menurut LeAnn Weiss dalam karyanya yang berjudul Heartlifters for Teachers, kelas bukan hanya sekedar fasilitas pendidikan untuk belajar menulis, membaca dan berhitung.  Lebih dari itu, kelas adalah tempat dimana anak-anak mendapatkan tuntunan agar karakternya berkembang. 

 Menurutnya juga, guru yang baik berpengaruh terhadap segala aspek perkembangan siswa, dan..pendidikan guru yang tinggi belum tentu dapat menjawab tantangan ini.  Bukan berarti guru tidak perlu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, namun pertanyaannya adalah apakah pendidikan yang dimiliki oleh guru dapat memberi pengaruh positif terhadap siswanya, termasuk pengaruh terhadap perkembangan karakternya?  Ini adalah pertanyaan yang saya rasa tidak perlu dijawab tetapi perlu dijadikan sebagai bahan renungan.

Guru yang baik selalu bekerja berdasarkan tujuan, memiliki alasan, dan selalu memikirkan hasil yang akan dicapai dan bagaimana siswanya mencapai hasil tersebut.  Pada saat guru mengakui keunikan siswanya, maka guru tersebut telah berkontribusi positif terhadap perkembangan karakter mereka karena siswa yang bermasalah di hari ini, kemungkinan akan menjadi pemimpin hebat di masa mendatang, dan hal ini bisa terjadi karena guru ikut peduli untuk ‘menggosok’ pikiran anak hingga kilaunya bersinar.

Nah, oleh sebab itu, melalui profesi keguruan, kita diberi kesempatan untuk memperoleh keuntungan, bukan keuntungan dalam bentuk uang atau bonus atau juga bukan dalam bentuk hadiah, tetapi lebih dari itu.  Pengaruh guru terbentang luas dari tahun ke tahun bahkan dari generasi ke generasi berikutnya untuk ‘menggosok’ intan-intan di sekitarnya menjadi intan yang paling berkilau sinarnya sehingga memberi manfaat bagi yang berada di sekitarnya.  Mau?

7 thoughts on “Kompetensi Guru

  1. Terima kasih atas artikel Ibu yang menyentuh dan memberi semangat, khususnya untuk saya pribadi. Benar sekali apa yang Ibu sampaikan di sini, bahwa guru diberi kesempatan yang sangat berharga untuk ‘menggosok’ intan-intan hingga menjadi intan-intan yang berkilau sinarnya…. Namun di lubuk hati saya yang paling dalam, saya sejujurnya merasa bahwa tugas ini juga merupakan amanat/tanggung jawab yang berat, sehingga ada ‘ketakutan’ atau kekhawatiran bila nanti saya tidak mampu memikul tanggung jawab ini dengan baik, sehingga mungkin tidak akan menghasilkan intan-intan yang berkilauan … Bagaimana menurut pendapat Ibu?

    • Memang bu apabila kita selalu melakukan refleksi, selalu ada kekhawatiran terhadap apa yang sedang kita lakukan. Bukan hanya sebagai guru saja kita khawatir tidak dapat menjalankan tugas dengan baik, tetapi kita pun terkadang punya kekhawatiran terhadap peran kita yang lain, misalnya peran sebagai Ibu, sebagai anak atau yang lainnya. Saya rasa selama kita menjalankannya dengan penuh kesungguhan dan penuh integritas, hasil akhir bisa kita serahkan kepada “yang di atas” saja.

      • Kesungguhan dan integritas…
        Dua kunci sukses untuk ‘menggosok’ intan-intan itu ya Bu….

        Terima kasih banyak, bu Angie …

  2. Guru memiliki basic pendidikan yang tinggi belum tentu ia mampu dalam mengajar siswa dikelas dengan baik. Kesungguhan dan persiapan guru yang matang ketika mengajar itu sendirilah nilai guru yang nantinya akan menggali potensi siswa..Yuk guru-guru menggosok intan yang belum bersinar, sebelum semuanya terlambat!!

  3. Memang menjadi guru bukanlah tugas yang ringan.
    Diperlukan orang-orang yang cerdas pikiran dan cerdas hati untuk melakukannya.
    Jika dibaca pada Permen 16 th 2007, setidaknya ada 4 kompetensi guru/guru kelas.
    Kompetensi pedagogis
    Kompetensi kepribadian
    Kompetensi sosial
    Kompetensi profesional
    Masing-masing dilengkapi dengan uraian dan penjelasannya.
    Boleh dong di baca-baca….

  4. Bu angie , sebagai seorang guru memang suatu tugas dan amanah yang sangat mulia. seandainya makna tugas tersebut benar benar dimiliki oleh semua guru guru kita ditanah air ini , maka percepatan pendidikan negara kita akan lebih cepat berhasil.
    semangat guruyang berhasil adalah semangat jika para siswanya berhasil dalam belajar dan berhasil menggunakan belajarnya dalam kehidupan. kalau toh ada imbalan materi ( dampak sertifikasi ) itu hanya pen-supprot kegiatan pembelajarannya.
    demikian salam dari Hariyadi – kota madiun

    • Setuju pak. Mudah-mudahan sertifikasi tidak dijadikan sebagai tujuan utama sehingga melupakan esensi dari tugasnya. Sebaliknya, sertifikasi bisa dijadikan sebagai penyemangat kerja guru sehingga terpacu untuk lebih berprestasi dalam menjalankan tugasnya dan dapat mengemban amanah dengan lebih baik lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: