Active Learning: Komentar dari Teman

Teman-teman sekalian, tulisan Active Learning yang diluncurkan kemarin ternyata mendapat komentar dari teman saya. Saya mengenal beliau sewaktu kami sama-sama membantu para dosen Unsiyah, Aceh, dalam penyusunan modul perkuliahan PGSD. Modul tersebut diharapkan mencerminkan kegiatan yang membuat para mahasiswa aktif. Bapak Sentot, teman saya tersebut, sekarang aktif di Program Lapis, Ausaid dan mengajar di Universitas Malang di fakultas MIPA. Karena komentarnya cukup berharga, sayang rasanya kalau tidak dimunculkan. Saya rasa tidak semua pembaca membuka komen yang ada, jadi saya putuskan untuk dibuka saja. Silahkan menikmati dan meresapi komen tersebut setelah klik tulisan di samping ini.

Saya sepakat Bu Angie, pembelajaran aktif merupakan ‘virus’ yang perlu disebar-luaskan dan diimplementasikan dalam dunia pendidikan kita. Meskipun istilah ini telah dikenal luas, harus diakui bahwa masih banyak praktek pembelajaran kita yang cenderung “teacher centered”. Siswa hanya menjadi penonton dan menerima informasi secara pasif.

Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran merupakan manifestasi dari belajar bagaimana belajar (learn how to learn). Keterlibatan mereka secara aktif dalam pembelajaran memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk mengeksplorasi informasi, mengidentifikasi dan memecahkan masalah serta membangun sendiri konsep-konsep yang ingin dipelajarinya. Keseluruhan pengalaman belajar ini akan memberikan ketrampilan kepada siswa bagaimana sesungguhnya belajar yang dapat menjadi bekal untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Pribadi yang mampu belajar terus menerus seperti inilah yang diharapkan mampu beradaptasi dengan berbagai pesatnya perkembangan jaman serta berkompetisi di era global.

Alvin Toefler, salah seorang futurolog, menyatakan bahwa orang buta huruf pada saat ini bukanlah orang yang tidak bisa membaca melainkan orang yang tidak bisa belajar. Sebagai implikasinya, kemampuan belajar terus menerus atau menjadi manusia pembelajar seumur hidup merupakan keharusan jika kita ingin eksis di era informasi. Hal inilah yang menjadi landasan mengapa pembelajaran yang aktif perlu dan penting bagi siswa.

Aktivitas siswa secara berkelompok atau lebih tepatnya pembelajaran kooperatif diharapkan juga menumbuhkan siswa menjadi pribadi dan warga negara yang lebih toleran dan damai. Jika siswa terbiasa mengemukakan gagasan, toleran dan menghargai pendapat orang lain, diharapkan sikap dan perilaku tersebut dapat terus berkembang ketika mereka terjun di masyarakat kelak. Dengan demikian pembelajaran yang aktif juga ikut menyiapkan siswa menjadi warna negara yang lebih baik dan lebih demokratis.

Mohon maaf jika saya sering berkata sadis: jika kita tidak melaksanakan pembelajaran aktif, sama saja dengan ‘melestarikan pembodohan’. Karena siswa yang tidak terbiasa aktif belajar akan kesulitan untuk menjadi seorang pembelajar seumur hidup. Sebuah syarat utama hidup pada era perubahan.
Bagaimana pendapat Bu Angie dan teman-teman?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: