Tumbuh Bersama

Hampir satu tahun ini penulis secara rutin bertemu dengan rekan-rekan kepala sekolah, Yayasan, pemilik atau manajemen dari sekolah-sekolah yang terkumpul dalam suatu wadah bernama Sister School. Kegiatan kami adalah saling berbagi informasi tentang bagaimana mengelola sekolah, masalah-masalah apa yang ditemui dan bagaimana mencari solusinya. Sekali-sekali guru-guru kami pun berkumpul untuk berbagi ide kegiatan pembelajaran di kelas.

Wadah kami jauh dari formalitas. Tidak ada ketua, bendahara atau pun pengurus. Kami pun tidak membiasakan untuk memungut bayaran. Bagaimana dengan konsumsi atau urusan lainnya? Yach, secara bergantian kami menjamu ala kadarnya pada saat ketempatan tamu. Namun kami juga terkadang membawa bekal sendiri atau memberi uang sekedarnya hanya untuk satu kali pertemuan.

Sekolah-sekolah yang datang berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Bandung dan Tangerang. Tempat kami berkumpul tentunya berkeliling, bergantian tempat. Materi yang kami bicarakan berkembang, mulai dari masalah SDM, Obsevasi Guru sampai peningkatan kualitas program. Pertemuan terakhir diadakan di Sekolah Al Fikri, Depok. Tema yang kami bicarakan adalah ‘Good to Great’, suatu tema yang kebetulan dibawakan oleh Mary van der Heijden, Vice Principa dari UWC (United World College), Singapura, dalam seminar ‘Quality in Education’ yang diselenggarakan oleh Tara Salvia Edu Lab di Bintaro. Materi tersebut akan penulis bahas di blog ini di lain kesempatan.

Pertemuan-pertemuan tersebut tentunya sangat berharga bagi sekolah yang mengikutinya karena banyak yang dapat didiskusikan serta saling belajar satu sama lain.

7 thoughts on “Tumbuh Bersama

  1. Subhanallah, bu Angie makin canggih aja nih, tawarin mutbun dong bu. Sister School ga dibatasi tempat/lokasi kan bu ?

  2. Apakah ‘pemerhati’ pendidikan yang belum punya lembaga/yayasan bisa bergabung juga bu? Inginnya sih bisa ikutan sharing setelah ‘dijejali’ teori-teori pendidikan di kampus…

    • Sampai sekarang yang ikut berpartisipasi di kegiatan sister school memang mereka yang memiliki lembaga. Belum terpikir untuk mereka yang tidak memiliki basis lembaga. saya harus diskusikan dulu dengan teman-teman. Thanks Bu Weni.

  3. Senangnya kalau boleh bergabung… Apakah seorang ‘pemerhati’ pendidikan yang belum punya lembaga/yayasan resmi bisa bergabung juga bu? Inginnya sharing hasil ngelmu di kampus (ketemu profesor-profesor jadi tambah mumet, qlo gak segera diomongin)…

    • Wah, masa ketemu profesor tambah mumet bu? Bukannya tambah pintar? Di setiap sharing di sister school juga kita biasa membicarakan masalah-masalah sekolah. Mumet juga sih bu, tapi karena yang mumet banyak dan sifatnya berjamaah, jadi sering diakhiri dengan tertawa dan akhirnya saling menertawakan diri sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: