Hadiah dan Hukuman

Pemberian hadiah sebagai salah satu cara agar anak melaksanakan kewajibannya dalam belajar dapat berakibat kurang baik terhadap cara pandang atau tingkah laku mereka kelak. Di dalam kelas, banyak siswa yang berlomba-lomba menyelesaikan pekerjaannya karena ingin mendapatkan hadiah dari gurunya. Mereka tidak memikirkan kualitas dari tugas yang sedang diselesaikannya. Di rumah, orang tua terkadang memberi hadiah atas hasil belajar anaknya dengan memberikan sesuatu. Hal ini tidaklah salah, namun apabila dilakukan terus menerus, maka anak-anak akan terbiasa melakukan sesuatu karena dorongan eksternal, misalnya karena adanya iming-iming atau hadiah. Dampak dari sikap ini akan terlihat pada saat mereka dewasa kelak dan berada di dalam lingkungan kerja. Motivasi bekerja mereka hanyalah didorong oleh hal-hal yang bersifat material, bukan motivasi untuk menghasilkan yang terbaik.

Di lain pihak, tidak jarang pula anak mendapatkan hukuman karena kesalahan atau kegagalan yang menimpanya. Orang dewasa memberikan hukuman namun anak tidak memahami mengapa mereka harus dihukum. Perlakuan yang diberikan oleh orang dewasa tidak membuat perilaku anak menjadi lebih baik namun memberikan masalah baru kepada anak yaitu rasa dendam atau benci. Hukuman sekedarnya pun akan berdampak anak menyepelekan masalah.

Pemberian konsekuensi dengan cara mendiskusikan atas apa yang terjadi sangatlah penting agar anak tidak mengulangi lagi kesalahan yang telah diperbuatnya. Pemahaman bahwa berbuat salah bukanlah suatu dosa namun anak harus memperbaiki kesalahannya dengan memiliki pemahaman terhadap perbuatannya yang tidak baik. Mencari solusi bersama sehingga ada kesepakatan konsekuensi antara anak dan orang dewasa memberikan peluang kepada anak agar mereka memiliki tanggung jawab menjalankan konsekuensi yang telah dipilihnya. Yang paling penting dari proses ini adalah adanya refleksi yang dilakukan secara mandiri sehingga mereka akan menjadi individu yang lebih baik.

Berikut adalah hal-hal yang perlu kita ketahui tentang hadiah dan hukuman:

Hadiah:

  • Terlihat bagus, baik, namun tidak efektif
  • Memberi motivasi kepada anak untuk mendapat hadiah, bukan mendapat hasil yang terbaik
  • Kalau tidak ada hadiah, tidak akan dilakukan atau dikerjakan
  • Melakukan tugas hanya untuk orang dewasa, bukan untuk kepentingan diri sendiri
  • Hidup tergantung ’external motivation’ atau motivasi eksternal
  • Tidak ada ’internalized value’
  • Siswa tidak memiliki komitmen untuk mengubah sikap
  • Guru lelah menghadapi masalah yang sama
  • Siswa akan selalu bertanya seperti ini: ’ kenapa saya harus melakukan ini?, mereka ingin saya melakukan apa?’ – seharusnya : ’apa yang harus saya lakukan agar lebih baik?’

Hukuman:

  • Membuat anak marah
  • Ingin balas dendam
  • Simbol penggunaan ‘power’
  • Terlihat efektif, namun tidak ada yang dipelajari anak
  • Membuat anak ’terpaksa’ dalam mengerjakan tugas

Pemberian hadiah tidak akan membuat anak memiliki motivasi diri yang kuat dalam melakukan sesuatu, mereka bekerja karena adanya dorongan dari luar, dan hal ini akan membuat anak tidak mandiri.

15 thoughts on “Hadiah dan Hukuman

  1. Tulisan yg inspiratif dan menyadarkan diri untuk bisa lebih berhat2 dan sabar dalam mendidik anak, semoga bermanfaat,amiin. terima kasih Bu Angie.

  2. Keren Bu,..
    topik ini memang penting untuk mengubah paradigma para guru dan ortu dalam mendidik anak,..ditunggu artikel lainnya,.

  3. Refleksi buat saya pribadi Bu… jangan2 yang saya lakukan selama ini belum tepat, he2… Makasih banyak, Bu.. sangat bermanfaat.

  4. Akhirnya… bisa membaca “diary” pendidikan yang ditulis langsung dari pakar lapangan… habis ini bikin buku ya bu..

  5. Internal motivation yach bu… Bagaimana jika bukan hadiah atau hukuman tapi arahan yang memberikan pandangan keberadaan dunia saat ini dengan universal values bu…

    • Untuk menghindari anak hanya ingin mengerjakan sesuatu karena iming-iming, sebaiknya orang dewasa memberikan penjelasan mengapa mereka harus ‘do the best’ terhadap tugasnya dan apa tujuan dari tugas yang diberikan. Hadiah akan menghasilkan generasi ‘Pak Ogah’, artinya, orang hanya akan bekerja baik kalau ada imbalannya. tentunya kita tidak ingin generasi penerus memiliki mental demikian, kan?

  6. Artikel ini ok bangget terutama untuk menyadarkan pendidik yang masih sibuk dengan motivasi eksternal. Ditunggu tulisannya yang lain

  7. Yang menjadi pertanyaan saya bu Angie, kira-kira masih diperlukankah “reward dan punishment” dalam mendidik anak?, kemudian bentuknya seperti apa yang dianjurkan??. Thanks

    • Justru kurang dianjurkan pak karena apabila kita melakukannya, kita secara tidak langsung sedang mengajarkan mereka untuk selalu melakukan pekerjaan karena adanya dorongan dari pihak luar, menyelesaikan tanggung jawab karena tagihan orang. Nah, kita bisa mulai dengan memperkenalkan alasan mengapa mereka harus melakukan sesuatu. Kita bisa sampaikan bahwa mereka berprestasi, mengerjakan tugas adalah karena untuk kepentingan mereka, bukan untuk kepentingan orang dewasa. Misalnya, kita cenderung memberi hadiah pada saat anak mendapat nilai bagus. Nah, jangan sampai anak mengejar nilai agar mendapat hadiah. Perlu diingatkan agar mereka belajar karena untuk kepentingannya.

  8. Yang menjadi pertanyaan saya bu Angie, kira-kira masih diperlukankah “reward dan punishment” dalam mendidik anak?, kemudian bentuk yang seperti apa yang dianjurkan??. Thanks

  9. Assalamu’alaikum Bu…
    Pertanyaan baru utk case hadiah dan hukuman. Saat anak ngambek (usia TK ATAU SD 1-2) ortu akhirnya bs mendiamkan dengan iming-iming (hadiah)…atau anak menawar hadiah lain..apa ortu ttp memberikan yg diminta(hadiah) dgn stlh melakukan jg refleksi atas kesalahanya yg anak lakukan?. Makasih bu..
    Wassalam

    • Saya cenderung tidak akan melakukan itu Bu. Saya akan berusaha untuk memberi arahan sederhana kepada anak. Karena sekali memberi hadiah, sulit menghilangkannya. Pernah melihat seorang anak balita berguling-guling di mall karena tidak dikabulkan permintaannya? Nah, orang tua akan terpaksa membelikan apa yang diminta anak karena malu anaknya nangis di muka umum dan anak merasa ‘aha…! ini caraku untuk meminta sesuatu…. Nah, sebelum terlanjur, mari kita tidak memulainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: